Category Archives: Minat dan Bakat
FBS Outing class “Finding your treasure”

FBS Outing class “Finding your treasure”
Outing class merupakan suatu kegiatan yang diadakan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra di Universitas AKI. Outing class sudah mulai dilakukan sejak 2 tahun lalu dan ini merupakan outing class yang ke – 3 kalinya. Outing class yang telah dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 29 November 2016 berlangsung dengan sangat tertib dan lancar. Antusiasme dari setiap peserta membuat outing class semakin seru dan menyenangkan. Outing class kali ini, tidak hanya di ikuti oleh mahasiswa/i dari Fakultas Bahasa dan Sastra, tetapi mahasiswa/i dari Fakultas Psikologi juga ikut berpartisipasi sebagai peserta outing class. Dengan digabungnya dua Fakultas, diharapkan kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat terbuka bagi Fakultas lain untuk belajar bahasa Inggris bersama, tentunya dengan cara yang berbeda, mudah dan pastinya sangat menyenangkan.
Adapun lokasi outing class kali ini berbeda dari lokasi sebelumnya, yaitu di sekitar Kota Lama Semarang. Lokasi outing class kali ini berada di 3 titik, dengan rute yang cukup panjang.Titik lokasi pertama dimulai dari taman Pandanaran, kemudian dilanjutkan pada titik lokasi berikutnya yaitu di Mugas dan titik selanjutnya berakhir di taman KB. Di tiap titik lokasi, peserta diminta mengerjakan soal yang telah dipersiapkan oleh panitia, yaitu soal Reading, Structure, Homonym, dan Crossword. Perjalanan yang cukup panjang dan jauh ini tidak mengundurkan niat dan semangat dari setiap peserta outing class. Untuk menuju ke setiap titik lokasi (pos – pos) peserta diberikan sebuah peta yang merupakan petunjuk untuk menuju ke titik lokasi selanjutnya. Tidak sedikit peserta yang kebingungan ketika menuju ke titik – titik lokasi berikutnya, karena hanya dibekali oleh sebuah peta. Tapi inilah yang membuat outing class kali ini semakin seru.
Hari Guru, Bunga untuk Pahlawan
Tanggal 25 Nopember, Himpunan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra Unaki berkumpul di Hall. Beberapa mahasiswa sibuk menata bunga. Dua orang mahasiswa cantik jelita berlatih pembagian suara. Satu orang mahasiswa berkacamata menundukkan kepala, kemudian mendongak, mencoba menghafalkan sebuah puisi.
Semangat Ki Hajar Dewantoro
Kurang lebih tujuh puluh tahun yang lalu Ki Hajar Dewantoro, bapak pendidikan nasional, mengajak masyarakat sekitar untuk duduk di bawah pohon. Di tempat tersebut beliau mengajarkan menulis dan membaca. Beliau ingin rakyat Indonesia setara dengan bangsa-bangsa lain. Kesetaraan tersebut hanya dapat dicapai dengan pendidikan. Lambat laun kegiatan tersebut diikuti oleh banyak orang. Rakyat merasakan manfaat yang nyata pendidikan. Rakyat bisa membaca dan menulis, dan karena itu, rakyat tidak bisa lagi dibodohi oleh bangsa-bangsa lain.
Beberapa daerah meniru kegiatan yang dilakukan oleh Ki Hajar Dewantoro. Cerdik pandai mengajarkan rakyat yang belum berpendidikan. Gerakan tersebut meluas ke penjuru Indonesia dan pada akhirnya mampu mencetak generasi penerus yang unggul.
Salah satu resep keberhasilan tersebut adalah prinsip pendidikan yang dicetuskan oleh bapak pendidikan kita yakni Ing Ngarso Sun Tulodho (jika di depan memberi contoh), Ing Madyo Mangun Karso (jika di tengah memotivasi), dan Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan). Prinsip itu pula yang selama ini dipegang oleh segenap civitas akademika Unaki. Dosen membantu mahasiswa untuk mencapai potensi terbaik mereka, sebaliknya, mahasiswa juga menghormati dosen di dalam dan di luar kampus.
Prinsip tersebut yang mendorong Himpunan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra untuk memberikan persembahan untuk segenap ‘guru’ yang ada di lingkungan Unaki. Setelah berkonsultasi dengan dekan, maka terwujudlah persembahan hari guru dengan tema: Bunga untuk Pahlawan.
English Competition Unaki

English Competition Unaki
Untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan berbahasa Inggris para mahasiswa Universitas AKI, Fakultas Bahasa dan Sastra UNAKI mengadakan kegiatan Internal English Competition bagi para mahasiswa UNAKI sendiri. Tema yang diambil adalah From Zero to Hero dengan harapan agar para mahasiswa yang merasa bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa menjadi lebih percaya diri setelah mengikuti kegiatan ini, terutama dalam hal penguasaan bahasa Inggris mereka baik grammar, speaking, listening, maupun writing.
Kegiatan tersebut diselenggarakan pada tanggal 24 Mei 2016 di kampus UNAKI Jl. Imam Bonjol no. 15-17. Ada empat macam lomba yang diikuti oleh para mahasiswa UNAKI dari berbagai fakultas, yaitu Story Telling, Singing Contest, Fun English, dan FBS’ Got Talent. Khusus untuk mahasiswa FBS tidak boleh mengikuti lomba Story Telling dan Fun English karena selain sebagai panitia, mereka juga dianggap memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang lebih baik daripada mahasiswa dari fakultas lainnya. Sedangkan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Psikologi diperbolehkan mengikuti semua jenis perlombaan.
Pada kesempatan tersebut pihak rektorat dan dosen-dosen Fakultas Bahasa dan Sastra serta dosen dari fakultas lain juga ikut terlibat sebagai juri dari berbagai perlombaan yang diselenggarakan. Kegiatan tersebut berlangsung kurang lebih dari pukul 09.00 sampai 14.00. Para mahasiswa tampak antusias mengikuti jalannya perlombaan dan terpancar kegembiraan dari raut wajah mereka. Untuk sejenak mereka bisa melupakan kesibukan belajar mereka, meskipun tanpa mereka sadari mereka juga sedang belajar bahasa Inggris secara praktek langsung dalam kegiatan tersebut.
William Patterson : Stepping out and Trying New Things

William Patterson : Stepping out and Trying New Things
Kegiatan hari pertama mahasiswa baru Universitas AKI Semarang biasanya diisi dengan pidato dari key-note speaker lokal, tetapi kali ini mahasiswa baru Unaki angkatan 2015 dari berbagai fakultas (FIK, FE, FBS dan FPsi) mendapatkan bekal motivasi dari seorang pemuda bernama William Patterson warga South Carolina, Amerika Serikat.
Seminar yang juga dihadiri civitas akedemika Unaki dan tamu undangan itu berlangsung selama 2 jam. Meskipun materi disampaikan dalam bahasa Inggris, namun acara berlangsung secara intens karena interaksi antara pembicara (seorang teenager) dan audiens difasilitasi oleh seorang interpreter yang juga berasal dari kalangan mahasiswa. Dengan demikian pesan dari pembicara dapat nyambung dengan para pendengarnya yang sebaya umurnya. Mahasiswa tampak tertarik mengikuti jalannya seminar; terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepada pembicara cukup menarik bahkan tak terduga. Untuk menguji apakah mahasiswa memahami isi materi pembicaraan, sang pembicara William Patterson merasa perlu memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada mahasiswa dengan iming-iming hadiah menarik bagi mahasiswa yang berhasil menjawab pertanyaan dengan baik.